22, Mon Apr 2019

Anakku bukan saja Autis, tapi juga sakit Ginjal dan Epilepsi

 
 

Anakku bukan saja Autis, tapi juga sakit Ginjal dan Epilepsi

 by : Syafrini Nasution (ibu dari Luthfi,17 th)

Seminar Expo Peduli Autisme, Graha Sucofindo Jakarta 17-18 April 2010

 

Pengantar 

Sebagai salah satu orang tua anak Autis , yang kebetulan diberi bonus 2 kelainan lagi yaitu ginjal dan epilepsi, pada kesempatan ini sekedar berbagi pengalaman atas apa yang saya alami, rasakan dan hal-hal yang harus diperjuangkan. Banyak hal yang dikerjakan tidak sempurna, namun banyak hal pula yang menjadi pelajaran dan pengayaan bathin saya dengan segala macam ujian yang diberikanNya.

Luthfi, yang kini berusia 17 tahun, sampai saat ini masih tidak bisa bicara, menjalani hari-harinya dengan banyak keterbatasan fisik dan autisnya, membuat saya menjadi lebih baik, lebih sabar dan bersyukur atas karunia dan kasih sayangNya.

Mudah-mudahan pengalaman perjalanan hidup ini bisa juga memberikan inspirasi dan pelajaran yang berharga buat semua orang tua dan khususnya orang tua anak autis yang tidak  pernah berhenti dari masalah.

 

Riwayat anak

Berdasarkan hasil pemeriksaan darah dan urin pada awal kehamilan, ditemukan adanya virus Toxoplasma, walaupun dalam kadar yang tidak terlalu tinggi sehingga diberi antibiotik dosis tinggi selama 1 minggu dan saat itu pula kandungan saya mengalami vlek/perdarahan, sehingga harus bedrestselama 2 minggu. Meskipun dijaga dengan baik, tetapi karena kondisi cuaca dan kelelahan fisik, pada kehamilan 4 – 7 bulan, saya terkena beberapa kali demam dan flu.

Pada hari Minggu, tanggal 07 Maret 1993 pagi, lahirlah bayi laki-laki dengan berat 3,15 kg dan panjang 49 cm. Karena ternyata bayi terlilit tali pusar pada saat lahir, kondisi bayi tidak menangis dan biru, baru setelah beberapa saat ditreatmentoleh dokter , barulah terdengar tangisan sang bayi yang diberi nama Muhammad Luthfi Anindra.

Luthfi tumbuh dengan baik dan normal, memperoleh ASI sampai dengan 20 bulan, imunisasi lengkap dan hampir tidak pernah sakit. Tetapi memang sudah terlihat sangat aktif, apabila diberi mainan lebih tertarik pada kotaknya daripada mainannya (senang membuat susunan keatas atau berjajar panjang) dan belum bisa bicara sampai dengan umur 1,5 tahun. Awalnya kami tidak terlalu khawatir, karena dokter anak mengatakan “Biasa, anak laki-laki terlambat bicara, tunggu saja sampai umur 2 tahun”. Pada saat ulang tahun Luthfi ke-2, rasa kekhawatiran mulai membesar karena belum juga ada kata-kata yang keluar, hanya ‘bahasa planet’ saja. Kami akhirnya melakukan pemeriksaan EEG (Electro Echography).Berdasarkan hasil EEG, Luthfi didiagnosa ADD (Attention Deficit Disorder) dan Delayed Speech. Ia hanya diberi vitamin untuk menutrisi otaknya.

Setelah berjalan 6 bulan (th. 1996), tidak ada perubahan berarti dalam perkembangan Luthfi, tetap hyperaktif dan belum bicara. Kami coba masukkan Luthfi ke Sekolah Play Group dekat rumah untuk sosialisasi, tetapi tidak ada hasilnya dan pihak sekolah pun tidak mengerti cara menanganinya. Luthfi tidak pernah bergaul/bermain dengan teman-temannya, asyik berjalan-jalan sendiri di sekolah. Pihak sekolah memutuskan untuk men DO (Drop Out) Luthfi dari sekolah, karena dianggap tidak ada kemajuan (atau mungkin dianggap mengganggu kegiatan sekolah ya…..). Tanpa putus asa, kami mencari sekolah baru untuk Luthfi (kebetulan ada TK baru yang tidak terlalu jauh dan mau menerima Luthfi sekolah), Tapi ternyata di sekolah inipun Luthfi hanya diberi kesempatan 1 tahun, karena pada akhirnya sekolah tidak paham untuk menangani Luthfi dan mereka menyarankan untuk masuk SLB ( buat saya artinya Luthfi harus menerima nasib di DO lagi).

Di pertengahan tahun 1997, Luthfi mulai konsul ke dr. Melly Budiman di RS. MMC, Jakarta, dan baru pada saat itulah (usia 4,5 th) Luthfi didiagnosa dengan pasti AUTIS hyperaktif. Saat ini pula Luthfi mulai terapi medikamentosa(obat ). Berbagai macam obat penenang (untuk hyperaktifnya) dan untuk memperbaiki konsentrasi dicoba (kalau tidak salah hitung ada kurang lebih 10 macam yang dicoba selama 2 tahun), tidak ada satupun yang cocok untuk Luthfi, yang biasanya untuk anak lain bereaksi baik, reaksi di Luthfi sebaliknya. Akhirnya obat yang bereaksi lumayan baik adalah Melleril dan Risperdal.

Di tahun ini  juga (1997), Luthfi mulai terapi 3x seminggu di tempat baru di daerah Bona Indah, Jakarta Selatan . Lokasi ini tidak terlalu jauh dari rumah, dan mulai diberikan bermacam-macam terapi, seperti Sensory Integration, Terapi Wicara, dan dll. Di rumah pun dilakukan terapi 3x seminggu dengan system ABA (Applied Behaviour Analysis) yang pada saat itu baru mulai dikenal dengan terapis dari mahasiswi2 (3 orang bergantian) Psikologi UI. Walaupun system ini baru tahap belajar (baik orang tua maupun terapisnya) dan usia anak sudah hampir 5 tahun, berdampak  baik untuk perkembangan Luthfi.  Dan pada akhirnya di tempat terapi pun dipergunakan metode ini. 

Di awal tahun 2000, 2 orang ibu teman seperjuangan Luthfi (mulai dari awal  terapi , saya ikut kemana Ina dan Ita pindah tempat terapi) tiba-tiba telfon dan mengabarkan akan mendirikan sekolah sekolah untuk anak autis diatas 7 tahun. Saya langsung bersedia Luthfi  masuk di sekolah itu (rasanya saat itu seperti menemukan oase di padang pasir, karena saya sudah jera untuk memasukkan Luthfi di sekolah umum, sedangkan usianya saat itu hampir 7 tahun). Jadilah Luthfi bersama Ikhsan (putra tunggal ibu Dyah Puspita) murid percobaan di awal berdirinya Sekolah Mandiga. Walaupun pada saat itu Luthfi non verbal  tapi dia bersekolah setiap hari (Senin-Jum’at jam 8-12) dengan bahagia dan penuh semangat. Kejutan-kejutan tingkah laku di sekolah pasti ada. Luthfi  pernah meloncat dengan kaki telanjang ke meja kaca (yang pastinya pecah berantakan, tapi Luthfi tidak ada luka yang berarti), naik ke atas wuwungan atap, masuk ke bak penampungan air, membanting pintu hingga jari pengasuh temannya hampir putus.....dan sederetan ulah Luthfi lainnya ( bakat alami menjadi stunt-manmungkin ya....).

Tahun 2001, dr. Melly Budiman memfasilitasi untuk mengirimkan sampel urin, faeses, rambut dan darah ke Great Plains Laboratory di USA, dan dari hasilnya ternyata darah Luthfi banyak mengandung logam berat, ususnya bocor dan alergy berbagai macam makanan (beberapa bulan sebelumnya Luthfi sudai mulai diet GFCF/Gluten Free Casein Freewalaupun baru terbatas susu dan terigu saja). Berdasarkan hasil ini, Luthfi diet sesuai dengan alerginya dan alhamdulillah Luthfi memang pada dasarnya tidak pilih-pilih makanan (Luthfi amat suka berbagai macam sayuran). 

Di tahun ini juga Luthfi mulai mencoba obat-obat alami Homeopathy. Awal terapi, Luthfi menjalani detoksifikasi dan semua obat kimianya dihentikan. Minggu pertama shakawberat (terus menerus tantrum dan tidak dapat tidur), minggu ke-2 mulai tenang dan setelah 1 bulan, Luthfi mengalami kemajuan yang baik untuk masalah hyperaktifnya. Sejak saat itu (usia 8 tahun), Luthfi hampir bisa dikatakan tidak pernah memakai obat kimia baik untuk mengatasi autisnya maupun untuk sakit fisiknya). 

Kondisi kesehatan fisik Luthfi dari lahir secara umum sangat baik ( di Mandiga pernah mendapat Award sebagai murid paling rajin, tidak pernah absen sekolah), non verbal tapi akhirnya dapat berkomunikasi dengan mempergunakan kamus elektronik (semacam kalkulator yang berisi abjad), dan hyperaktifnya sudah berkurang.

 

 Masa Remaja

Awal masa remaja (12 th keatas) dilalui Luthfi dengan baik, Luthfi sudah melaksanakan sunat di usia 10 tahun dengan lancar (1 minggu sudah pulih), kegiatan sekolah di Mandiga dilalui dengan senang dan bahagia (sampai saat ini sudah lulus dari Mandiga pun, apabila disebut sekolah pasti jawabnya Mandiga), secara fisik sehat. Kegiatan Luthfi sehari-hari, disamping sekolah di Mandiga, hampir setiap sore berenang di Kolam Renang Simprug Pertamina dengan pelatih Pak Karyanda. Luthfi sudah lancar berenang (walaupun gayanya mirip lumba-lumba berenang). Memang apabila diamati, Luthfi amat mahir untuk urusan olah fisik, jadi awalnya kami mengambil kesimpulan Luthfi berbakat di bidang olah raga. Masa puber pun sama dengan anak normal lainnya, mulai terlihat senang memperhatikan perempuan cantik, suara memberat dan suka memegang kelaminnya sendiri.

Perubahan drastis terjadi di awal tahun 2007 (usia Luthfi hampir 14 tahun), diawali dengan demam dan radang tenggorokan, setelah 1 minggu (biasanya diberi obat homeopathy dan panadol sudah sembuh), matanya sembab, gurunya di sekolah pun melihat hal yang sama, akhirnya dibawa ke dokter anak dekat rumah. Begitu melihat muka Luthfi (bengkak, terutama mata, istilahnya Moon Face), dokter langsung curiga Luthfi terkena Nephrotic Syndrome, terus terang kami belum pernah mendengar istilah penyakit tersebut, dan dokter angkat tangan untuk menanganinya, beliau menyarankan untuk langsung dibawa ke rumah sakit untuk opname dalam waktu lama. Rasanya berat sekali membayangkan Luthfi harus diopname (masuk ke ruangan dokter atau rumah sakit aja Luthfi takut), akhirnya setelah dijelaskan panjang lebar, Luthfi diberi pengantar untuk periksa laboratorium dan disarankan untuk konsul ke dr. Ahli Ginjal Anak. 

 

Luthfi dengan kelainan ginjalnya:

 
 

Akhirnya dengan membawa pasukan, kami bawa Luthfi ke laboratorium untuk pemeriksaan darah dan urin. Disamping itu, sambil menunggu hasilnya (1 hari baru bisa diambil), saya mencari informasi dari internet sebanyak-banyaknya tentang Nephrotic Syndromedan dokter ahlinya di Jakarta. 

Sindrom nefrotik adalah suatu kelainan ginjal yang ditandai dengan :
1. Protein bocor secara abnormal.
2. Rendahnya tingkat protein dalam darah (karena kebocoran protein) 
3. Peningkatan kadar protein di urin,
4. Pembengkakan pada bagian tubuh (disebut edema).

Sindrom nefrotik adalah kumpulan gejala yang berhubungan dengan disfungsi ginjal, dan bukan penyakit, dalam dan dari dirinya sendiri. Sindrom nefrotik adalah suatu kelainan yang ditandai oleh hilangnya protein dalam urin. Dalam realitanya, Sindrom nefrotik adalah tanda pertama dari berbagai penyakit yang merusak ginjal, terutama darah  unit penyaringan (glomeruli)di ginjal, di mana air kencing terbentuk. Hal ini menyebabkan penurunan tingkat protein dalam darah, dan air untuk pindah ke jaringan tubuh, menyebabkan pembengkakan dan kembung tubuh (edema).

Hasil laboratorium Luthfi menunjukan protein dalam urin +2, berarti Luthfi terkena kelainan ginjal, Nephrotic Syndrome (NS), dan kami konsul ke dokter ahli ginjal anak di kawasan Pasar Minggu. Menurut dokter ini termasuk kelainan yang tidak tahu apa penyebabnya (idiopathic) dan dokter tersebut baru pertama kali menangani kasus Autis + NS. Luthfi harusnya dirawat di rumah sakit, tetapi dengan segala pertimbangannya, kami minta Luthfi dirawat dirumah. Kondisi Luthfi setiap pagi bengkak di bagian kepala, lalu menjelang sore, cairannya akan turun sehingga menyebabkan bengkak di kaki. Diberi obat-obatan Steroid(Lamesondengan dosis lumayan tinggi), sehingga dalam waktu 2 bulan, Luthfi membaik dan boleh mulai sekolah kembali.

Walaupun sudah mulai berkegiatan, terlihat Luthfi tidak terlalu sehat, cepat lelah dan pengaruh dari obat Steroidnya, tumbuh bulu, jerawat seluruh muka dan terkena herpes kulit. Hanya bertahan 2 bulan, kondisi Luthfi kembali memburuk (protein di urin +4), bengkak seluruh tubuh dan hanya bisa berbaring di tempat tidur. Satu bulan kemudian Luthfi mulai mengalami kejang dengan frekwensi 2 minggu sekali. 

Luthfi mengalami perubahan total dalam hidupnya, yang awalnya hyperaktif, saat itu hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur dan terpaksa berhenti sekolah. Semua makanan tidak boleh bergaram, obat steroid diganti dengan obat Cyclophospamide/CPA(obat ini biasa dipakai untuk kemoterapi). Efek samping tetap ada dan harus dikontrol ketat, setiap bulan cek darah untuk menjaga leukosit nya tidak dibawah ambang batas, rambut dan semua bulu rontok. Disamping itu Luthfi pun harus minum obat pengencer darah (Aspilet) setiap hari untuk menjaga agar tidak Stroke(mengingat trombosit dan kolesterolnya jauh diatas ambang batas normal akibat NS). Terapi obat-obatan diberikan selama 1 tahun (Juli 2007 s/d Juli 2008), yang akhirnya pada bulan Juli 2008 pertama kali protein dalam darah Luthfi kembali negatif. Obat CPAdihentikan perlahan. Walaupun demikian, karena NSini kelainan, dalam arti tidak dapat sembuh total, hanya bisa dijaga agar tidak kambuh kembali.

 

Luthfi dengan Epilepsinya: 

Pertama kali Luthfi kejang, saya menduga karena ketidak cocokannya dengan obat Steroid (berdasarkan perjalanan sejak kecil, banyak sekali obat yang tidak cocok untuk Luthfi). Oleh karena itu untuk proses pemulihan NSnya, obat diganti dengan non-steroid. Tetapi ternyata setelah berbulan-bulan obat untuk NS diganti pun, Luthfi tetap mengalami kejang, sampai frekwensinya 2x seminggu dan terkadang kejang sampai 3x dalam sehari. 

Setelah konsul dengan dr. Hardiono D.P. (sebelum datang konsultasi saya sudah kirim e-mail riwayat Luthfi, karena tidak mungkin dibawa). Luthfi disarankan untuk EEG terlebih dahulu, dan akhirnya melalui perjuangan panjang untuk membuat tidur Luthfi di ruang pemeriksaan, berhasil dilakukan Brain Mappingdan EEGterhadap Luthfi. Hasilnya sangat terlihat gelombang gelombang yang menunjukkan adanya epilepsi. Dan Luthfi mulai memakai obat penjegah kejang, yaitu Dilantin. Dua bulan pertama awalnya baik, kejang tidak ada, tetapi di bulan ketiga muncul kejang lagi, lalu di bulan ke-5 muncul kejang lagi, dan semakin sering sampai 1 minggu sekali, akhirnya setelah konsul kembali obat Dilantindicoba ditambah dosisnya, tetap muncul kejang walaupun frekwensinya makin jarang. Obat dicoba diganti dengan Depakote(seperti biasa Luthfi sulit sekali cocok dengan obat). Masih tetap kejang, akhirnya ditambah dengan Tegtretol(Depakote3x1 dan Tegretol 3x1), gejala kejang tidak muncul sampai hampir 10 bulan. Rasanya sudah mulai tenang dan Luthfi sudah berkegiatan kembali, (Home schooling, les piano, les melukis dan komputer), walaupun secara fisik tetap dijaga agar tidak terlalu lelah. 

 

Krisis dalam keluarga

Saat Luthfi mulai terdiagnosa kelainan ginjal (NS) ditambah gejala epilepsi, dibutuhkan kejernihan  dan ketenangan berfikir serta stamina yang kuat untuk menanganinya. Diet yang diterapkan karena autisnya harus ditambah dengan aturan tanpa garam, awalnya Luthfi tidak mau makan karena hambar, tapi pada akhirnya dia pasrah juga. Luthfi yang sebelum sakit sangat hyperaktif, hanya bisa tergolek pasrah ditempat tidur tanpa bisa mengungkapkan rasa sakitnya. Kebetulan saya punya saudara penderita Lupus dan terkena NS, baru saya mengerti rasa sakitnya Luthfi. Badan yang bengkak rasanya seperti habis dipukuli bertubi-tubi, jangankan dipeluk, disentuh pun Luthfi tidak mau. Belum lagi kalau muncul kejangnya, makin tidak berdaya lah Luthfi ditempat tidur. Tak tega rasanya melihat penderitaannya, Luthfi hanya bisa mengeluh pelan dalam tidurnya. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti kerja, karena kondisi Luthfi harus terus menerus dipantau (banyak sekali efek samping baik dari sakitnya maupun obat).  Pada saat yang sama saya pun sedang dalam proses perceraian dengan satu dan lain sebab, Rifqi (adik Luthfi) diambang ujian akhir SD, dan ditambah dengan kesulitan keuangan karena berhenti bekerja. Rasanya masalah saat itu seperti benang kusut yang tidak tahu dimana pangkal dan ujungnya. 

Sepanjang perjalanan hidup saya dan Luthfi, inilah saat-saat terberat kami, dimana saya harus selalu tegar secara fisik dan mental, terutama dalam menjaga Luthfi walaupun banyak persoalan lain yang sama beratnya harus diselesaikan dalam waktu yang bersamaan.

 

Penanganan  Krisis

Kalau ada orang yang bertanya, bagaimana caranya mengelola krisis pada saat itu? Butuh waktu sebentar untuk melihat kebelakang, karena apabila difikir kembali pun rasanya takjub bahwa krisis tersebut sudah pernah dilalui.

Sebelum Luthfi lahir, saya bukan termasuk orang yang sabar dan telaten, hanya dengan melalui perjalanan hidup bersama Luthfi, kesabaran itu terbentuk dengan sendirinya. Dalam melalui krisis kehidupan yang lalu, yang utama adalah Balance of life  , keseimbangan agar kita tidak terpaku di masalah yang berat, sehingga akan terasa lebih ringan, seperti prinsip alam yang selalu ada kanan dan kiri, atas dan bawah, susah dan senang, dan lain-lain yang selalu ada keseimbangannya. Beruntung kita tidak hidup sendiri, ada orang-orang terkasih yang selalu ada disamping kita, bisa pasangan, keluarga, sahabat, teman dan siapapun yang dikirim Tuhan untuk meringankan  mempermudah dan memberi dukungan dalam perjalanan ini, merekalah yang memberi tambahan kekuatan baik fisik maupun mental. Memang tidak ringan diberi amanah anak autis, apalagi dengan bonus 2 kelainan lagi yang sama sulitnya, tapi tidak mungkin rasanya Tuhan beri kesulitan tanpa diberi jalan keluarnya (janjiNya yang selalu saya pegang). 

Badai pasti berlalu, walaupun dampaknya bisa berbekas, demikian juga dengan Luthfi, insya Allah saat ini kondisi ginjalnya stabil (sudah tidak minum obat) walaupun setiap bulan harus selalu cek urin, epilepsinya dijaga dengan minum obat teratur dan sesuai jadwal. Luthfi sudah bisa berkegiatan kembali, walaupun banyak hal yang harus ditata kembali karena cuti sekolah sampai 2 tahun dan stamina fisiknya tidak seperti dulu. Luthfi lebih rentan terkena virus, bakteri dan infeksi, sehingga saya dibantu adik dan pengasuhnya yang harus selalu memantau setiap perubahan yang ada.  

Ayah saya banyak memberi anak-anaknya nasihat kehidupan, salah satunya adalah : “Hidup ini adalah seni, tidak tergantung jenis masalahnya, tapi bagaimana cara kita menghadapinya”. Membutuhkan seni hidup yang dengan bertambahnya masalah yang telah kita lalui akan semakin tinggi seni yang kita miliki. Setiap menghadapi masalah hidup, apalagi pada saat datang bersamaan, saya selalu memegang prinsip itu, dari sekian banyak masalah, diurai satu persatu (seperti mengurai benang kusut dan digulung kembali), dibuat skala prioritasnya, dicari sebabnya  dan diselesaikan satu persatu. Apabila menemui jalan buntu (di luar kemampuan kita sebagai manusia) diserahkan kepada Yang Maha Kuasa, karena pasti sudah disiapkan jalannya. Insya Allah selama ini cara tersebut manjur....

Sebagai contoh saat krisis yang sudah dilalui dari sekian banyak masalah yang ada, dibuat skala prioritas dan dipilah yang menjadi problem besar, dicari sebab dan jalan keluar yang mampu dilakukan, seperti:

No.

Problem besar

Rincian

Yang dilakukan

Result

1.

Luthfi

NS dan Epilepsi

 

konsultasi ke dokter masing2 , buat file khusus hasil lab. , kondisi Luthfi, data obat , efek obat dan efek samping yang harus dipantau, jadwal konsultasi, dll.

Berupaya dan berdoa, hasilnya diserahkan ke YMK.

2.

Rumah tangga

 

Proses penyelesaian diusahakan secepatnya, agar selesai dan tidak mengganggu fikiran lagi.

Selesai 3 bulan.

3.

Rifqi

Ujian akhir SD + masuk SMP

Kondisi mental dan fisik Rifqi dijaga, perhatian lebih dan dorongan untuk percaya diri.

Berhasil dilalui dengan baik.

4.

Masalah keuangan

 

Rumah dijual, semua hutang dilunasi, sisa uang untuk hidup sehari-hari dan kontrak rumah.

Berhasil dilalui.

5.

Pribadi

Mengatasi stress.

Bekerja part time, leisure, berteman dan kumpul keluarga.

Sangat membantu.

6.

Masa depan

Kebutuhan keluarga

Setelah NS Luthfi reda (Juli 2008), kembali bekerja full time untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Do the best

 

Peran Rifqi sebagai saudara kandung Luthfi cukup besar, hampir bisa dikatakan dia berfungsi sebagai abang Luthfi, dia sangat membantu misalkan cara menangani Luthfi saat kejang, saat Luthfi tantrum, saat Luthfi mencuri-curi makanan terlarang, dan lain-lain. Bersyukur Rifqi tidak bermasalah dalam pergaulannya, dia tetap percaya diri walaupun abangnya terkadang ‘menunjukkan ke-autisan nya’ pada saat teman-temannya berkunjung ke rumah, ataupun di area publik lainnya. Saat ini mereka sekamar dan bisa berinteraksi/berbagi kamar dengan baik. 

Banyak hikmah yang didapat dari krisis yang dilalui, seperti : menambah keimanan, rasa syukur, kedewasaan dan kematangan hidup, ikatan keluarga lebih erat (saudara kandung dan orang tua), ikatan persahabatan dan pertemanan lebih erat, Rifqi (saudara kandung Luthfi) makin dewasa.

 

Kesimpulan

Hidup ini sebuah perjalanan,  terkadang berliku, menanjak, menurun, berbatu-batu bahkan harus menyebrangi sungai yang dalam, tapi terkadang juga ada jalan yang lurus dengan pemandangan yang indah , terus berjalan demikian berulang-ulang hingga kita sampai di tujuan. Lebih mudah dan ringan melaluinya, apabila kita selalu belajar dari alam yang memang diciptakanNya sebagai contoh kehidupan. Apapun masalah yang dihadapi, yang terpenting ‘bagaimana cara kita menghadapinya’. Banyak hikmah yang bisa dipetik dari setiap masalah yang kita lalui dan akan menambah keimanan dan kematangan kita. Insya Allah kita sebagai orangtua anak autis dan dengan masalah hidup lainnya selalu diberi jalan keluar sesuai janjiNya. Amin...

Comments

Leave a reply